Banyak hotel saat ini mengandalkan OTA (Online Travel Agent) sebagai sumber utama booking. Memang, platform seperti OTA membantu hotel mendapatkan tamu lebih cepat dan memperluas jangkauan pasar. Namun, jika hampir seluruh okupansi bergantung pada OTA, ada risiko besar yang sering tidak disadari oleh owner hotel. Sekilas hotel terlihat ramai, tetapi profit belum tentu optimal. Bahkan dalam beberapa kasus, hotel justru sulit berkembang karena terlalu bergantung pada satu jalur penjualan.
OTA Membantu, Tapi Bukan Fondasi Utama
OTA adalah alat distribusi yang sangat efektif. Namun dalam praktiknya, banyak hotel terlalu fokus mengejar ranking dan promo di OTA hingga melupakan strategi jangka panjang. Akibatnya:
- Margin keuntungan terus terpotong komisi
- Hotel sulit membangun loyalitas tamu
- Harga kamar menjadi tidak stabil
- Brand hotel kalah kuat dibanding platform OTA itu sendiri
Di sinilah peran hotel operator menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara okupansi dan profitabilitas.
Risiko Jika Hotel Terlalu Bergantung pada OTA
Komisi Menggerus Revenue
Semakin tinggi ketergantungan pada OTA, semakin besar biaya komisi yang harus dibayarkan. Bayangkan jika sebagian besar booking berasal dari OTA dengan potongan komisi cukup tinggi. Hotel memang terlihat ramai, tetapi keuntungan bersih bisa jauh lebih kecil dibanding direct booking. Operator hotel profesional biasanya membantu menyusun strategi distribusi agar hotel tidak hanya bergantung pada satu channel.
Sulit Membangun Database Tamu
Ketika booking datang melalui OTA, hubungan hotel dengan tamu sering kali terbatas. Banyak tamu hanya mengenal platform OTA, bukan brand hotelnya. Padahal database tamu sangat penting untuk:
- Repeat booking
- Program loyalitas
- Promosi langsung
- Efisiensi biaya marketing
Karena itu, pengelolaan hotel modern tidak hanya fokus pada okupansi, tetapi juga membangun customer retention.
Perang Harga Tidak Sehat
Hotel yang terlalu bergantung pada OTA sering terjebak perang harga dengan kompetitor. Akhirnya:
- Harga kamar terus turun
- Nilai hotel ikut menurun
- Pasar menjadi sensitif terhadap diskon
Padahal tamu tidak selalu memilih hotel termurah. Banyak tamu justru mencari pengalaman, pelayanan, dan reputasi yang baik.
Jika Anda ingin berdiskusi mengenai strategi manajemen hotel yang lebih sehat dan tidak terlalu bergantung pada OTA, Anda dapat menghubungi Salak Hospitality melalui WhatsApp di 0811-1920-3003.
Strategi yang Lebih Seimbang
Hotel yang berkembang biasanya memiliki kombinasi channel yang sehat, seperti:
- OTA
- Website resmi hotel
- Corporate market
- Social media marketing
- Repeat guest
- Direct booking
Dengan strategi ini, hotel tetap mendapatkan exposure dari OTA tanpa kehilangan kontrol terhadap revenue dan positioning brand. Operator hotel profesional umumnya membantu owner menyusun strategi distribusi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Saatnya Evaluasi Strategi Penjualan Hotel
OTA tetap penting dalam industri hospitality modern. Namun jika hotel terlalu bergantung pada satu sumber booking, risiko bisnis akan semakin besar dalam jangka panjang. Karena itu, owner perlu mulai memikirkan strategi pengelolaan hotel yang lebih seimbang, mulai dari branding, digital marketing, hingga penguatan direct booking.
Untuk konsultasi mengenai hotel operator, strategi revenue, dan pengelolaan hotel secara profesional, silakan hubungi tim Salak Hospitality melalui WhatsApp di 0811-1920-3003.
